Vitamin D 1,25 (OH)2 D3–(calcitriol) merupakan salah satu vitamin yang mempunyai peran yang cukup luas di dalam tubuh , pada pasien dengan gagal ginjal kronik sering disertai dengan penurunan kadar kalsium yang selain memerlukan kalsium dari luar juga diperlukan vitamin D. Begitu pula penggunaan vitamin D, yangcuku penting dalam penatalaksanaan osteoporosis. Studi-studi terbaru menunjukkkan bahwa pasien-pasien dengan gangguan ataupun penurunan fungsi ginjal sering disertai dengan peningkatan kadar gula darah dan resistensi insulin, yang diperkirakan disebabkan oleh adanya hiperparatiroid sekunder yang akan menghambat sekresi insulin dari sel-beta pancreas. Data-data yang elbih baru juga menunjukkan bahwa defisiensi vitamin D akan mempengaruhi metabolisme glukosa.
Suatu survei yang menilai kadar vitamin D pada sebanyak 133 pasien rawat jalan dengan diagnosis DM tipe-1 pada sebuah senter pendidikan kedokteran menunjukkan adanya korelasi antara kadar vitamin D dengan sensitivitas insulin. Diperoleh profil subyek, sebanyak 52 laki-laki dan 81 perempuan (89 kaukasia dan 29 afrika amerika, dan 5 asia), dengan rata-rata usia 54 tahun diperolah gambaran rata-rata kadar kalsium serum sebesar 9,45 mg/dL (referensi 8,6 – 10,2 mg/ dL), dan dengan rata-rata Hb terglikosilasi (HBA1c) adalah 6,9%, kreatinin serum sebesar 1,06 mg/dL (referensi 0,5 – 1,3). Sesuai dengan klasifikasi yang baru menujukkan sebanyak 68 pasien (51,1%) menunjukkan defisiensi (≤ 20 ng/mL), sebanyak 32 pasien (24%) masuk dalam kelompok “relative insufisien” (21 – 29 ng/mL), dan hanya 33 pasien (24,8%) masuk dalam klasifikasi sifisien dengan kadar (25(OH) vitamin D sebesar ( ≥ 30ng/mL).
Dari data-data tersebut diatas menunjukkan bahwa prevalensi dari insufusiensi vitamin D pada pasien DM poli spesialis rujukan tersebut cukup tinggi yaitu mencapai 75,2%, dan hanya seperempat populasi pasien DM rawat jalan menujukkan kadar yang optimal. Status vitamin D pada pasien DM mungkin berkorelasi negatif dengan sensitivitas insulin, namun bukti yang menujukkan peningkatan risiko Dm belum jelas. Sebaliknya hiperglikemia mungkin sebagai predisposisi terhadap rendahnya kadar vitamin D, atau mungkin dihubungkan dengan hal-hal yang umum dari kedua kondisitersebut misalnya: status nutrisiyang suboptimal, usiayang sudah tua, dan tidak adanya pemaparan terhadap sinar matahari. Hipovitamin D mungkin berperan dalam bagian terjadinya penyakit mikrovaskuler dan berhubungan gejala-gejala pendukungnya seperti nyeri neuropatik.
Suatu studi ekplorasi, hipovitaminosis D mungkin menyebabkan atau berkorelasi dengan derajat kontrol kadar gula darah, asupan diet, faktor geografi, kondisi kehidupannya. Dari data-data tersebut serta didukung dengan penelitian yang lebih luas mungkin pemeriksanaan kadar vitamin D perlu dilakukan sebagai tindakan penapisan pada pasien DM dan perlu dipikirkan dampak suplementasi vitamin D pada pasien DM ini.
Source : www.kalbefarma.com