| Suplemen Selenium dan risiko diabetes tipe 2
Jakarta, 07 Sep 2007
Selenium adalah antioksidan yang dimasukkan ke dalam tablet multivitamin untuk mendapatkan efek perlindungan terhadap pengembangan diabetes tipe 2. Nyatanya, menurut analisis para ilmuwan dari University at Bufallo, selenium dapat meningkatkan pengembangan diabetes. Hasil peneltian ini muncul dalam jurnal Annals of Internal Medicine edisi Agustus 2007.
Hasil uji klinis teracak menggunakan 200 mcg selenium tunggal menunjukkan bahwa 55% lebih kasus diabetes tipe 2 berkembang diantara partisipan yang diacak menerima selenium dan yang menerima plasebo.
Diagnosis diabetes tipe 2 yang dilaporkan sendiri adalah sasaran akhir sekunder uji klinis yang didisain untuk menguji manfaat suplementasi selenium dalam pencegahan kanker kulit non melanoma di area Amerika Timur yang kadar seleniumnya lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional. Selenium adalah ‘trace’ mineral yang esensial bagi komponen protein yang terlibat dalam aktivitas antioksidan.
Saverio Stanges, M.D., Ph.D., penulis utama studi pencegahan diabetes melakukan analisis sementara di University at Buffalo, bekerja sama dengan koleganya dari Roswell Park Cancer Institute yang berafiliasi dengan Clinical Studies Research Institute, Warwick Medical School, Coverty, Inggris. Stranges mengatakan bahwa temuan ini sangat menarik, tapi harus dipertimbangkan dengan hati-hati. Lebih lanjut dia mengatakan bahwa diantara para partisipan yang menggunakan selenium, mereka yang mempunyai kadar tertinggi selenium dalam sirkulasi darahnya pada awal studi, mempunyai risiko tertinggi pengembangan diabetes tipe 2 selama lebih dari 7,7 tahun follow up dan peningkatan risiko ini tampaknya hasil yang kebetulan. Namun demikian, dalam populasi umum, sangat sedikit orang, jika ada, menggunakan suplemen selenium saja, setiap hari, selama hampir 8 tahun, sehingga kami tidak yakin bahwa temuan ini dapat diaplikasikan pada masyarakat yang lebih besar.
Studi selenim dan diabetes yang melibatkan 1.202 orang yang tidak mempunyai diabetes tipe ketika mereka memasuki uji klinis kanker di RoswelPark. Partisipan direkrut untuk studi utama antara tahun 1983 dan 1991 dan mereka dilibatkan untuk rata-rata 7,7 tahun. Studi suplementasi ini selesai pada Februari 1996.
Analisis studi diabetes ini melibatkan data dari 600 orang yang menggunakan selsnium dan 602 yang diacak untuk menerima pil plasebo. Hasilnya menunjukkan bahwa 97 partisipan mendapatkan diabetes tipe 2 selama periode studi, 58 dari kelompok selenium dan 39 dari kelompok plasebo. Tidak ada perbedaan dala mtemuan saat jenis kelamin, umur, status merokok dan indeks massa tubuh dimasukkan ke dalam analisis.
Stranges mengatakan bahwa saat ini kami tidak tahu mekanisme apa untuk temuan ini. Mereka mempunyai sangat sedikit pemahaman tentang jalur biologis yang mungkin terlibat. Temuan ini perlu diulang dalam uji klinis yang lebih besar sebelum bukti konklusif dapat diambil apakah suplemen selenium dosis tinggi meningkatkan risiko diabetes tipe 2 seperti temuan studi ini.
Selenium, dalam jumlah sedikit adalah mineral esensial, tapi bila lebih dapat menyebabkan efek merusak. Kita boleh menambahkan selenium tambahan untuk mengimbangi kekurangan dari sumber alamiah. Kelebihan selenium dapat berefek negatif pada sistem endokrin.
Source: www.kalbefarma.com
|