| Kombinasi latihan beban dan aerobik, yang terbaik melawan diabetes
Jakarta, 25 Sept 2007
Latihan selalu baik, tapi kombinasi kedua hal di atas memberikan hasil yang lebih baik menurut sebuah studi.
Kebanyakan orang mengetahui bahwa latihan dapat melawan diabetes tipe 2, tapi menurut sebuah studi, satu tipe fitnes gabungan menghasilkan yang terbaik. Khususnya, pekerjaan yang mengkombinasikan aerobik dan latihan resistensi tampaknya lebih baik dalam mengontrol gula darah dibandingkan aktivitas tipe lain sendiri-sendiri. Menurut Dr. Ronald J. Sigal, seorang profesor ilmu jantung dan kedokteran di University of Calgary, Alberta, Canada, temuan ini baru karena ‘kebanyakan studi lain melihat hanya satu jenis latihan, baik aerobik atau latihan resitensi.
Dalam penelitiannya, tim Sigal mengevaluasi 251 orang dewasa berumur 39 sampai 70, yang menderita diabetes tipe 2 dan tidak berlatih teratur pada permulaan studi. Partisipan dikelompokkan ke dalam satu dari empat grup : yang melakukan 45 menit latihan aerobik 3 X seminggu, yang melakukan 45 menit latihan beban/resistensi 3 X seminggu, yang melakukan 45 menit kedua latihan 3 X seminggu, dan yang tidak melakukan latihan sama sekali. Kelompok aerobik melakukan treadmill atau bersepeda di tempat senam. Kelompok resitensi juga berlatih di tempat senam dengan 7 macam latihan berbeda pada mesin beban.
Tim Sigal mengevaluasi perubahan angka A1c (pengukuran yang mencerminkan konsentrasi gula darah) selama 2-3 bulan sebelumnya. A1c dinyatakan dalam persentase. Par peneliti menjelaskan bahwa penurunan 1,0% angka A1c akan berkaitan dengan 15%-20% penurunan risiko serangan jantung atau stroke dan menurunkan 25%-40% risiko komplikasi terkait diabetes, seperti penyakit mata dan ginjal.
Diharapkan perbaikan kontrol gula darah pada semua kelompok latihan. Mereka yang melakukan aerobik dan latihan resistensi, angka A1c menurun sekitar 0,5% dibandingkan yang tidak latihan. Mereka yang melakukan latihan keduanya, tingkat kesuksesannya menjadi dua kali, dengan angka A1c nya menurun sebesar 0,97% dibandingkan kelompok yang tidak latihan. Kelompok tanpa latihan tidak mengalami perubahan angka A1c selama 26 minggu studi.
Menurut Sigal, yang mendasar adalah adanya tambahan nilai dalam melakukan latihan aerobik dan resistensi. Penurunannya hampir 1% pada angka A1c dalam studi diterjemahkan sebagai 15-20% penurunan risiko serangan jantung atau stroke dan 25-40% penurunan risiko komplikasi lain seperti retinopati (masalah mata terkait diabetes).
Bagaimana aktivitas fisik melawan diabetes tipe 2 dan penyakit yang berkaitan dengan diabetes ?
Menurut Sigal, latihan menurunkan resitensi insulin. Ini membuat transpor glukosa (gula darah) lebih efisien. Ahli lain mengatakan bahwa studi ini memberikan informasi tambahan bagi orang-orang yang berharap melawan diabetes.
Cathy Nonas, direktur aktivitas fisik dan nutrisi Departemen Kesehatan dan Kesehatan Mental New York City dan seorang ahli diet dan pemberi edukasi diabetes mengatakan, secara mendasar aerobik dan latihan resistensi keduanya sangat baik dan kombinasi keduanya malah lebih baik. Namun perlu penyederhanaan latihan untuk mempertahanankan pola fitnes setiap saat. Nonas mencatat, partisipan studi melakukan sesi fitnes 45 menit dan kelompok kombinasi menghabiskan sekitar 4,5 jam latihan seminggu, suatu angka yang buat beberapa orang menciutkan hati. Nonas menlanjutkan, saya tidak pernah membicarakan tentang 4,5 jam seminggu dengan seseorang yang tidak latihan sama sekali. Dia mendorong aktivitas latihan berapapun lamanya pada permulaan. Apapun yang Anda lakukan adalah baik. Selanjutnya, dia mendorong orang-orang perlahan-lahan meningkatkan waktunya. Studi ini sangat bermanfaat, lanjutnya, yang mengatakan bahwa apapun yang Anda lakukan akan berdampak dan semakin banyak yang dilakukan, efeknya akan semakin baik.
Source: www.kalbefarma.com
|