<< Back to Index News

Mengenal Formalin dan Bahayanya

Jakarta, Jumat, 6 Jan 2006

Menurut Winarno dan Rahayu (1994), pemakaian formalin pada makanan dapat menyebabkan keracunan pada tubuh manusia. Gejala yang biasa timbul antara lain sukar menelan, sakit perut akut disertai muntah-muntah, mencret berdarah, timbulnya depresi susunan saraf, atau gangguan peredaran darah.

Konsumsi formalin pada dosis sangat tinggi dapat mengakibatkan konvulsi (kejang-kejang), haematuri (kencing darah), dan haematosis (muntah darah) yang berakhir dengan kematian. Makanan yang rawan pemakaian formalin perlu diwaspadai, diantaranya:

1. Mi

Lezat bergizi tetapi rawan formalin (oleh prof. DR. Made Astawan, ahli teknologi pangan dan Gizi). Beberapa survei menunjukkan, alasan produsen menggunakan formalin dan boraks sebagai bahan pengawet karena daya awet dan mutu mi yang dihasilkan menjadi lebih bagus, serta murah harganya, tanpa peduli bahaya yang dapat ditimbulkan. Deteksi formalin dan boraks secara akurat hanya dapat dilakukan di laboratorium dengan menggunakan bahan-bahan kimia, yaitu uji formalin dan uji boraks. Untuk itu perlu dilakukan upaya peningkatan kesadaran dan pengetahuan bagi produsen dan konsumen tentang bahaya pemakaian bahan kimia yang bukan kategori bahan tambahan pangan.

2. Bahaya di balik gurihnya ikan asin.

Kasus peredaran ikan asin berformalin semakin banyak dijumpai di masyarakat walaupun telah ada ancaman hukuman penjara dan denda Rp 1 miliar bagi produsen yang membuat pangan berformalin. Namun masalah baru kini harus dihadapi para pengolah itu. Sejak tidak memakai bahan pengawet berbahaya itu, praktis omzet penjualan mereka merosot drastis hingga mencapai lebih dari 40%. Dengan tidak memakai bahan pengawet, ikan asin yang diproduksi memang jadi terlihat lembek dan kusam, hanya bertahan 2 minggu dan bau ikan asinnya sangat menyengat. karena itu, penerapan sanksi hukum dinilai tidak menyelesaikan masalah dalam pengolahan ikan.

3. Tahu

Makanan favorit yang keamanannya perlu diwaspadai (oleh Eddy Mudjajanto dosen Dep. Gizi Masyarakat dan sumber daya keluarga, Fak Pertanian IPB). Tahu yang mengandung formalin dapat ditandai dengan: - Semakin tinggi kandungan formalin, maka tercium bau obat yang menyengat; sedangkan tahu tidak berformalin akan tercium bau protein kedelai yang khas. - Tahu yang berformalin mempunyai sifat membal (jika ditekan terasa sangat kenyal, sedangkan yang tidak berformalin jika ditekan akan hancur. - Tahu berformalin akan tahan lama, sedangkan yang tidak berformalin paling hanya tahan satu dua hari.

Agar tidak tertipu produk berbahaya itu, masyarakat sebaiknya berhati-hati dan memerhatikan ciri-ciri serta perbedaan antara bahan pangan segar dan yang mengandung bahan pengawet. Maka untuk menyikapi bahaya formalin ini disarankan:
1.Tenang
Meskipun harus waspada, hendaknya jangan lantas paranoid. Misalnya tidak perlulah sampai harus emoh memakai perangkat melamin. Yang penting kalau produknya mudah sekali pudar atau kusam, itu berarti bahannya banyak yang terkikis, produk seperti ini perlu dihindari.
2.Dingin
Jika tidak yakin akan kualitas produk melamin yang anda punya, sebaiknya jangan gunakan untuk makanan/minuman panas, karena untuk makanan/minuman yang dingin dinyatakan aman.
3.Cermat
Pilihlah makanan yang tidak berformalin. Menurut situs WHO, sebetulnya makanan berformalin memiliki bau yang khas, sehingga bisa dideteksi oleh orang awam sekalipun.
4.Pengawet lain.
Hindarilah penggunaan formalin sebagai bahan pengawet, saran Bambang (Tabloid Nova).

Source: http://www.apotik2000.net/