<< Back to Index News

55 Juta Ampul Vaksin Flu Burung Disiapkan

Jakarta, 06 Maret 2006

SUBANG — Pemerintah menyediakan 55 jüta ampul Vaksin flu burung untuk program vaksinasi massal di 27provinsi selama Maret-April.

Provinsi yang dipiIih merupakan daerah tempat kasus flu burung pernah ditemukan sejak 2003. Dan data di Departemen Pertanian, sejak 2003, jumlah ayam, burung, dan itik yang mati akibat flu burung mencapai 15 juta ekor.

Menurut Direktur Jenderal Peternakan Departemen Pertanian Mathur Riady, tindakan vaksinasi massal secara ini akan digelar selama dua bulan mendatang. "Kami sudah mengirimkan surat kepada semua gubernur," ujarnya kepada wartawan di Subang, Sabtu lalu. Dalam catatan Tempo, beberapa provinsi, seperti DIG Jakarta, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Tirnur, adalah provinsi yang cukup sering terkena flu burung. Sedangkan kasus flu burung di provinsi lain hanya bersifat sporadis. Untuk kegiatan vaksinasi massal tersebut, ujar Matting dibutuhkan dana operasional Rp 8,2 miliar. Dana itu akan digunakan untuk membayar upah petugas vaksinasi di lapangan sebesar Rp 150 per ekor unggas. Daerah yang melakukan vaksinasi, kata Mathur, dapat menalangi terlebih dulu dana operasional ini. Selanjutnya,. mereka bisa rnengajukan klaim kepada pernerintah pusat untuk memperoleh penggantian.

Menanggapi rencana tersebut, Koordinator Forum Masyarakat Perunggasan Indonesia Don P Utoyo meminta agar program itu jangan menjadi janji semata. Sebab, Januari Mu, pemenintah juga pemah mengumumkan rencana melakukan vaksinasi massal. "Tapi ternyata Vaksinnya belum dibeli," ujarnaya, Seharusnya, kata dia, pemerintah memiliki standar operasional yang jelas. Sebab, vaksinasi unggas harus mernperhitungkan berbagai aspek, seperti soal teknis, ekonomi, kemampuan keuangan Daerah, dan sosialisasi kepada masyarakat. "Petunjuk ini sangat diperlukan agar tidak terjadi perbedaan tindakan petugas di daerah," ujar Don. Terkait dengan dana operasional pelaksanaan vaksinasi massal, menurut Don, pemenintah pusat seharusnya mencairkan terlebih dulu dana tersebut. Sebab, banyak daerah yang tidak rnampu menalanginya karena tidak memiliki pendapatan daerah yang cukup.


Di samping ini, jika dana operasional diberikan berdasarkan klaim masing-masing daerah, bisa saja di kemudian hari terjadi kemacetan terkait dengan proses verifikasi kebenaran data. "Bisa-bisa ini jadi masalah baru," ujamya.

Source: tempo newspaper