| Bau Mulut
Indikator Ginjal Terganggu
Untuk mencari tanda-tanda fungsi ginjal mulai terganggu, ternyata
tidak sulit. Selain proteinuria atau berlebihnya protein dalam urin,
bau mulut akibat terganggunya sistem pencernaan juga bisa dijadikan
indikator.
Jika menyebut bau mulut, sebagian orang mungkin akan lebih melihatnya
sebagai persoalan kosmetik, berhubungan dengan urusan penampilan,
atau adanya masalah pada gigi. Kebanyakan kasus bau mulut memang
berhubungan dengan gigi berlubang atau adanya infeksi pada mulut.
Namun, dalam kondisi tertentu, bau mulut yang berlebih dapat dijadikan
ukuran fungsi ginjal seseorang mulai bermasalah. Apalagi jika tidak
ada masalah pada gigi dan mulut.
Dr. Djoko Hardiman, Sp.PD, menilai bahwa adanya gangguan pada sistem
pencernaan dapat dijadikan indikator fungsi ginjal mulai bermasalah.
Tidak adanya nafsu makan, mual, hingga muntah-muntah adalah sebagian
reaksinya.
Hal ini terjadi karena ginjal terganggu. Metabolisme protein di
usus juga terganggu dan terbentuk zat-zat seperti amoniak dan lainnya
yang membuat usus menjadi sembab.
Munculnya bau khas yang keluar dari mulut atau fetoruremik, disebabkan
ureum yang berlebih pada air liur. Oleh bakteri dimulut (yang biasanya
memang ada), ureum diubah menjadi amoniak, sehingga saat bernapas
dan berbicara baunya amoniak. Selain itu, bisa timbul luka-luka
kecil pada bibir.
Gangguan Pencernaan
Selain bau mulut, menurut Dr. Djoko, kurang darah merupakan tanda
lain bila ginjal mulai tergang gu. Hal ini terjadi karena kurangnya
produksi eritropoetin, sehingga rangsangan pada sumsum tulang untuk
membentuk sel darah menjadi berkurang.
Perhatikan apakah Anda sering mengalami cegukan (di luar kewajaran).
Penyebabnya kenapa, memang belum diketahui hingga saat ini, tetapi
bisa menjadi pertanda gangguan pada fungsi ginjal. Menderita sakit
maag dan peradangan pada usus juga dapat dijadikan tanda.
Gangguan fungsi hormonal jika terjadi terus menerus juga dapat
menjadi pertanda ada yang tidak beres pada ginjal. Diantaranya terjadi
penurunan libido, fertilitas, dan akibat seksual lainnya. Pada wanita
bisa terjadi gangguan menstruasi hingga tidak mengalami menstruasi
lagi.
Terjadi pula gangguan metabolisme glukosa, resistensi insulin,
hingga gangguan produksi insulin yang menyebabkan penyakit kencing
manis atau diabetes. Begitu juga gangguan metabolisme lemak yang
ditandai oleh meningkatnya kadar trigliserida, kolesterol, dan lainnya
dalam darah.
Telapak Kaki Kesemutan
Pada taraf yang lebib parah, yaitu menderita gagal ginjai, tanda-tandanya
lebih jelas lagi. Seperti timbulnya gangguan pada sistem saraf dan
otot. Kaki sering terasa pegal atau restless leg syndrome, akibatnya
sering menggerak-gerakkan kaki. Timbul rasa seperti terbakar atau
kesemutan, terutama pada telapak kaki (burning feet syndrome).
Pada kasus gagal ginjal juga terjadi ensefalopati metabolik, yang
mengakibatkan perasaan lemah, tidak bisa tidur, gangguan konsentrasi,
tremor, hingga dapat menyebabkan kejang. Satu lagi adalah otot menjadi
lemah dan mengecil, terutama pada tungkai.
Jangan lupa perhatikan juga adakah gangguan pada sistem jantung
dan pembuluh darah (kardiovaskular). Biasanya ditandai dengan terjadinya
peningkatan tekanan darah (hipertensi).
Penderita sering juga mengalami nyeri dada dan sesak napas. Hal
ini disebabkan selaput pembungkus jantung mengalami peradangan.
Karena itu, orang yang memiliki masalah jantung agar lebih berhati-hati
karena berisiko besar mengalami gangguan ginjal.
Kelebihan Protein
Langkah yang hingga kini cukup efektif untuk mengetahui apakah
fungsi ginjal mulai atau sudah terganggu adalah tes proteinuria.
Tes ini untuk mengetahui apakah di dalam urin terkandung protein
dalam jumlah melebihi nilai normal (150 mg/urin per 24 jam).
Protein bagi tubuh berfungsi sebagai pembangun sistem pertahanan
tubuh agar bisa menghadapi serangan penyakit infeksi, membantu sistem
pembekuan darah, dan menjaga agar cairan yang beredar dalam tubuh
berada dalam jumlah dan komposisi yang tepat.
Beberapa organisasi kesehatan merekomenasikan agar setiap orang
harus secara teratur mengecek apakah mengalami proteinuria atau
tidak. Dengan demikian, penyakit ginjal dapat dideteksi segera dan
diobati sebelum berada dalam kondisi parah atau kronis.
Sebuah penelitian yang disponsori National Institutes of Health
di AS pada tahun 1996 mengungkapkan, proteinuria adalah peramal
yang paling baik dari gagal ginjal progresif pada mereka yang menyandang
penyakit diabetes melitus tipe 2. The National Kidney Foundation
maupun Yayasan Ginjal Indonesia juga merekomendasikan check up rutin,
termasuk mengetes protein yang terbuang melalui air seni.
Hal ini perlu dilakukan siapa pun, terutama mereka yang termasuk
kelompok risiko. Mereka yang termasuk kelompok risiko adalah penderita
diabetes melitus, hipertensi, atau mempunyai riwayat keluarga penderita
proteinuria.
Air Seni Berbusa
Jika protein sudah sedemikian banyak terbuang melalul air seni, ditandai
dengan air seni yang berbusa. Tubuh kekurangan protein yang menyebabkan
komposisi darah tidak bisa lagi mempertahankan keseimbangan cairan.
Sebagai hasilnya terjadi pembengkakan pada tangan, kaki, dan perut.
Meski demikian, tidak semua penderita proteinuria mengalami hal
seperti itu. Ada juga yang tanpa gejala dan baru diketahui pada
saat tanda-tanda payah ginjal muncul. Karena itu, satu-satunya cara
mendeteksi proteinuria adalah dengan melakukan pemeriksaan laboratorium
secara berkala (enam atau setahun sekali atau jika perlu lebih sering).
Seperti dianjurkan oleh Perhimpunan Nefrologi Indonesia (ahli ginjal),
untuk mengetahui adanya proteinuria, air seni yang baik buat diperiksa
adalah pada saat pagi hari karena telah mengalami pemekatan pada
malam harinya.
Biasanya dengan dipsticks, berupa kertas tipis yang akan berubah
warna jika urin mengandung protein, dan terlihat berapa kadarnya.
Warna yang keluar bisa dicocokkan dengan list warna yang disertakan
dalam wadah dipsticks.
Namun, pemeriksaan jenis ini masih terlalu sederhana dan hanya
bisa mendeteksi protein jenis albumin saja. Lebih baik lakukan pemeriksaan
di laboratorium yang teruji untuk hasil maksimal.
Apakah Anda memiliki beragam tanda-tanda di atas? Jika ya, segeralah
perbaiki pola hidup Anda dan konsultasikan ke dokter ahli untuk
pengobatan lebih lanjut.
Source: www.kompas.com
|