|
Penggunaan obat batuk pada anak
Batuk merupakan gejala yang paling mengganggu pada anak dengan
infeksi akut saluran nafas atas. Dalam praktek sehari-hari peresepan
obat batuk seringkali tidak didasarkan pada pemahaman dan pertimbangan
yang baik mengenai manfaat dan risikonya sehingga terjadi penggunaan
obat batuk yang kurang rasional. Contoh yang sering terlihat sehari-hari
ialah peresepan terlalu banyak jenis obat batuk dalam satu resep
(polifarmasi) dan/atau penggunaan dosis yang terlalu tinggi, dikatakan
dr. Rianto Setiabudy, saat seminar Startegi Pendekatan Klinis Secara
Profesional Batuk pada Anak, 25 Juli 2006 lalu, di Jakarta.
Ada berbagai obat pereda batuk yang digunakan di Indonesia, misalnya
kodein, dekstrometorfan, prometazin, berbagai antihistamin lainnya,
mukolitik, dll. Walaupun digunakan secara luas ternyata sebagian
obat ini mempunyai efikasi yang tidak melebihi plasebo, sebagian
lagi efikasinya tidak berdasarkan evidence-based medicine. Sementara
itu diketahui pula bahwa pada umumnya obat-obat ini mempunyai efek
samping.
Berdasarkan saat terjadinya, para ahli umumnya membagi batuk dalam
2 kelompok yaitu batuk akut dan batuk kronik. Batuk akut akan mereda
dalam 1-3 minggu walau tidak diberi obat apapun karena self-limiting.
Tata laksana batuk kronik harus didasarkan pada upaya mencari dan
mengatasi penyebabnya, bukan dengan menambah jenis atau dosis obat
batuk. Etiologi batuk kronik pada anak juga ternyata seringkali
berbeda dengan etiologi pada orang dewasa.
Pada tatalaksana batuk kronik dianjurkan untuk melakukan “watch,
wait dan review.”
Dalam menggunakan obat batuk juga perlu dipahami bahwa batuk adalah
salah satu bentuk mekanisme pertahanan tubuh yang penting. Oleh
karena itu refleks batuk ini tidak boleh ditekan terlalu hebat dengan
obat-obatan, sekalipun manifestasinya ialah batuk kering.
Source: www.kalbefarma.com
|