|
"Trans Fat" Mulai "Diharamkan"
Perang melawan trans fat mulai mencatat
kemenangan di Amerika Serikat, ketika Kentucky Fried Chicken atau
KFC akhir Oktober lalu mengumumkan akan mengganti minyak gorengnya
yang mengandung substansi penyumbat pembuluh arteri ini dengan sejenis
minyak kedelai yang tidak mengandung trans fat. Langkah KFC ini
menyusul pengumuman jaringan restoran cepat saji Wendy’s yang
melakukan hal sama pada Juni lalu.
Dari sisi ilmu kesehatan masyarakat, mengalahnya
KFC dan Wendy’s terhadap tekanan ilmuwan dan kelompok konsumen
hingga muncul legislasi berupa peraturan pemerintah yang mewajibkan
produsen makanan mengumumkan dan menekan kandungan trans fat dalam
produk mereka, dapat dianggap sebagai suatu keberhasilan. Ini bisa
disejajarkan dengan larangan merokok di dalam ruang publik, kewajiban
menggunakan sabuk pengaman dan helm, larangan bagi orang yang mabuk
mengemudikan mobil, hingga larangan bagi produsen susu formula memasang
gambar bayi di kemasan produknya.
Harian International Herald Tribune, 1 November
2006, memberitakan di halaman 1 dan 15 bahwa keputusan KFC merupakan
suatu langkah besar dalam upaya menyingkirkan trans fat dari diet
masyarakat Amerika Serikat. Michael Jacobson, Direktur Eksekutif
kelompok konsumen Center for Science in the Public Interest (CSPI),
menyambut gembira langkah KFC. Selama ini industri makanan enggan
mencantumkan kandungan trans fat, apalagi menyingkirkannya karena
asam lemak ini membuat makanan terasa gurih dan renyah.
Trans fatty acids, yang lazim dijuluki trans fat,
sebenarnya tergolong lemak tak jenuh (unsaturated fat) yang merupakan
hasil rekayasa manusia sehingga menghasilkan dua atom hidrogen letaknya
bersilangan pada ikatannya dengan atom-atom karbon. Ini berbeda
dengan kebanyakan asam lemak tak jenuh alami, seperti minyak zaitun
yang atom-atom hidrogennya berada pada sisi yang sama pada ikatan
ganda rantai karbon (lazim disebut konfigurasi cis).
Sampai tahun 1987, CSPI dalam newsletter Nutrition
Action mereka masih membela trans fat, tetapi mulai tahun 1992 organisasi
ini mulai menentangnya.
Sebenarnya sejak tahun 1988 sudah ada beberapa
pendapat di jurnal kesehatan bahwa trans fat dapat menjadi salah
satu sebab meningkatnya penyakit jantung koroner. Salah satu institusi
di AS yang sejak tahun 1970-an dan hingga kini paling gigih meneliti
secara epidemiologi bahaya trans fat adalah Harvard School of Public
Health (HSPH), mulai dari Studi Kesehatan Perawat tahun 1976 dan
1989, yang semuanya punya andil bagi peraturan Pemerintah Federal
AS pada masa Presiden Clinton dan George W Bush.
Tahun 1994, Prof Walter Willet, Ketua Departemen
Gizi HSPH, bersama epidemiolog HSPH, Dr Alberto Ascherio, menulis
komentar di American Journal of Public Health menggambarkan bagaimana
trans fat lebih merusak bagi kesehatan jantung dibanding lemak jenuh,
dan bertanggung jawab terhadap paling sedikit 30.000 kematian prematur
setiap tahun di AS.
Perlindungan separuh
"Inilah kekonyolan Amerika. Minyak yang mengandung
lemak tak jenuh, baik itu poly-unsaturated fatty acids (PUFA) maupun
mono-unsaturated fatty acids (MUFA) jika dipanaskan dalam suhu tinggi,
misalnya lewat deep frying seperti yang dilakukan KFC, akan berubah
struktur kimianya menjadi trans fat. Jadi tak peduli minyak kedelai,
minyak kacang, minyak bunga matahari dan minyak jagung yang tergolong
PUFA maupun minyak zaitun yang tergolong MUFA, jika dipakai untuk
menggoreng, semuanya berubah menjadi trans fat yang berbahaya,"
kata Prof Dr Walujo Soerjodibroto, pakar gizi klinik Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia ketika dihubungi awal pekan ini.
Walujo menilai keputusan KFC menyingkirkan minyak
goreng dan shortening yang membuat kentang dan ayam gorengnya menjadi
gurih dan renyah, barulah bentuk perlindungan separuh bagi konsumen.
Yang lebih menentukan bagi kesehatan masyarakat bukanlah jenuh atau
tidak jenuhnya lemak dalam minyak goreng, tetapi panjang pendeknya
rantai asam lemaknya. Ada tiga jenis asam lemak berdasarkan panjang-pendeknya
rantai asam lemak, yaitu yang rantainya panjang (long chain trigliseride/LCT),
rantai sedang (medium chain trigliseride/MCT), dan rantai pendek
(short chain trigliseride/SCT). Yang dipakai untuk minyak goreng
adalah yang tergolong dalam LCT dan MCT, yang sifatnya sama sekali
berbeda.
LCT untuk bisa diserap darah harus dilarutkan oleh
lipoprotein dan membutuhkan sekresi kelenjar empedu, dipendekkan
rantainya sehingga dapat masuk ke dalam kelenjar limfe dan masuk
ke dalam darah di pembuluh darah balik di bawah ketiak (vena subclavia).
Sementara MCT, walaupun tergolong lemak jenuh, bisa dicerna tanpa
bantuan empedu. Contohnya yang paling baik adalah minyak kelapa
atau minyak kernel (lembaga) kelapa sawit. "Karena kebodohan
kitalah, maka minyak kelapa kita ganti dengan minyak sawit yang
tergolong LCT. Sementara minyak kernel kelapa sawit juga kita ekspor,
tidak kita pakai untuk konsumsi dalam negeri," tutur Walujo.
Dari tilikan jenis dan sifat asam lemak yang ada,
maka jenis minyak yang baik bagi kesehatan adalah yang mengandung
MUFA dan MCT. Minyak zaitun akan lebih baik dan dapat melindungi
jantung (karena menurunkan total kolesterol, trigliserida dan kolesterol
"jahat" atau LDL) jika digunakan sebagai minyak sayur,
bukan digoreng. Sedang minyak goreng nabati yang tergolong PUFA
dan LCT akan lebih baik jika dipakai untuk menumis, bukan menggoreng
dengan suhu tinggi. Kalau tetap ingin menggoreng dengan suhu tinggi,
yang terbaik adalah menggunakan minyak kelapa atau minyak kernel
kelapa sawit.
Trans fat secara alami ada dalam jumlah sedikit
dalam daging dan susu hewan ruminansia, seperti sapi. Adapun sebagian
besar trans fat yang kita konsumsi saat ini diciptakan oleh industri
dengan melakukan hidrogenasi (penambahan atom hidrogen) minyak nabati,
suatu proses yang berkembang sejak awal tahun 1900-an.
Tahun 1960-an, di Amerika Serikat dan negara-negara
Barat sama sekali mengganti mentega/minyak hewani maupun minyak
nabati yang berlemak jenuh dengan trans fat, dengan alasan lebih
sehat. Ternyata di sinilah terjadi salah kaprah yang meluas sampai
ke Indonesia. Tidak mustahil hal inilah yang membuat penyakit jantung
koroner menjadi pembunuh nomor satu di negeri ini, sama seperti
di Amerika Serikat.
Source: www.kompas.com
|