|
Mutasi DNA Mitokondria Penyebab DM
Jakarta, 10 Nov 2003
Sudah mafhum diketahui bahwa penyakit diabetes
mellitus (DM) atau penyakit kencing manis adalah penyakit yang diturunkan
atau penyakit genetik. Dengan kata lain, orangtua yang menderita
DM akan menurunkan secara genetis anak yang berpotensi menderita
DM.
Dunia biomolekuler kedokteran mengklasifikasikan
penyakit DM ini dalam beberapa bentuk sesuai penyebabnya. Penyebab
itu antara lain defect resistensi insulin yang terjadi pada individu
pembawa bakat genetik penyebab DM dan sekresi insulin yang terjadi
pada sindrom DM akibat faktor yang didapat atupun akibat dari bakat
genetik yang diturunkan.
Demikian disampaikan dr Agung Pranoto dan dr Askandar
Tjokroprawiro dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga dan
staf medis pada Rumah Sakit Umum dr Soetomo Surabaya, Jawa Timur.
Mereka memaparkan tentang hal itu pada seminar
tentang mitokondria belum lama ini di Jakarta yang diselenggarakan
oleh Lembaga Eijkman.
Secara klinis, penyakit DM awalnya didominasi oleh
resistensi insulin yang disertai defect fungsi sekresi. Tetapi,
pada tahap yang lebih lanjut, hal itu didominasi defect fungsi sekresi
yang disertai dengan resistensi insulin.
Kaitannya dengan mutasi DNA mitokondria yakni karena
proses produksi hormon insulin sangat erat kaitannya dengan mekanisme
proses oxidative phosphorylation (OXPHOS) di dalam sel beta pankreas.
Penderita DM proses pengeluaran insulin dalam tubuhnya
mengalami gangguan sebagai akibat dari peningkatan kadar glukosa
darah. Mitokondria menghasilkan adenosin trifosfat (ATP). Pada penderita
DM, ATP yang dihasilkan dari proses OXPHOS ini mengalami peningkatan.
Peningkatan kadar ATP tersebut otomatis menyebabkan
peningkatan beberapa senyawa kimia yang terkandung dalam ATP. Peningkatan
tersebut antara lain yang memicu tercetusnya proses pengeluaran
hormon insulin.
Berbagai mutasi yang menyebabkan DM telah dapat
diidentifikasi. Kalangan klinis menyebutnya sebagai mutasi A3243G
yang merupakan mutasi kausal pada DM. Mutasi ini terletak pada gen
penyandi ribo nucleid acid (RNA).
Pada perkembangannya, terkadang para penderita
DM menderita penyakit lainnya sebagai akibat menderita DM. Penyakit
yang menyertai itu antara lain tuli sensoris, epilepsi, dan stroke
like episode.
Hal itu telah diidentifikasi sebagai akibat dari
mutasi DNA pada mitokondria. Hal ini terjadi karena makin tinggi
proporsi sel mutan pada sel beta pankreas maka fungsi OXPHOS akan
makin rendah dan defect fungsi sekresi makin berat.
Prevalensi mutasi tersebut biasanya akan meningkat
jumlahnya bila penderita DM itu menderita penyakit penyerta tadi.
Meskipun sudah teridentifikasi bahwa mutasi itu
terjadi di gen penyandi A3243G, ternyata untuk di Indonesia, tidak
berperan pada mekanisme timbulnya penyakit penyerta DM.
Penelitian ini kabarnya telah mencapai jumlah sampel
1.500 penderita DM yang berasal dari Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya.
Tidak ditemukannya mutasi A3243G menunjukkan peran mutasi itu mungkin
kurang penting pada terjadinya penyakit DM di Indonesia.
Namun, ada fakta lain yang cukup menarik yakni
yang dilaporkan peneliti Thailand. Menurut peneliti ini, satu kasus
DM yang terkait mutasi A3243G dari 100 sampel yang diteliti, kemungkinan
frekuensinya akan menurun jika jumlah sampel penelitian masih banyak.
Hal itu merupakan tanda tanya bagi para peneliti.
Mereka pun menghubungkan dengan kemungkinan bahwa iklim tropis dan
faktor nutrisi di wilayah Asia Tenggara merupakan faktor yang menyebabkan
rendahnya angka frekuensi mutasi A3243G dimaksud.
Source: www.suarapembaruan.com
|