| Sasaran tekanan darah lebih rendah bagi pasien-pasien yang mengalami CAD dan berisiko tinggi
Jakarta, 20 Aug 2007
Sebuah pernyataan baru dari American Heart Association (AHA) menyatakan bahwa sasaran tekanan darah pada pria dan wanita yang mengalami coronary artery disease (CAD) atau yang berisiko tinggi mengalami CAD harus antara 130/80 mgHg, suatu patokan yang lebih rendah dibandingkan angka 140/90 mgHg dari laporan the Joint National Committee (JNC) 7th. Dr Clive Rosendorff, pimpinan kelompok penulis, dari Mount Sinai School of Medicine, New York, mengatakan bahwa sasaran tekanan darah 140/90 mmHg masih sesuai untuk pencegahan CAD umumnya.
Laporan JNC 7th saat ini merekomendasikan bahwa sasaran angka lebih rendah 130/80 mmHg digunakan pada pasien-pasien dengan diabetes dan penyakit ginjal kronik (PGK). Menurut Rosendorff, ketika orang-orang menemui dokternya dengan tekanan sistolik antara 130-140, kebanyakan dokter umum dan sebagian kardiolog percaya bahwa pasien memiliki tekanan darah normal dan tidak perlu penanganan tambahan. Kita mencoba menunjukkan bahwa faktanya ada hal besar yang bisa diperoleh dengan menangani pasien-pasien ke kadar yang lebih rendah.
Pernyataan ini cocok baik untuk pencegahan primer pasien-pasien (dibagi menjadi pencegahan umum dan risiko tinggi CAD), juga untuk pasien-pasien dengan pra CAD dalam berbagai bentuk : angina stabil, angina tak stabil/non-ST elevation MI, ST-elevation MI, gagal jantung sekuder. Pasien dengan kategori risiko tinggi didefiniskan sebagai pasien yang juga punya diabetes, PGK, diketahui CAD, risiko ekivalen CAD (penyakit karotid, peripheral artery disease atau abdominal aortic aneurysm), atau skor risiko Framingham selama 10 tahun ≥ 10%. Pasien-pasien ini seharusnya mempunyai tekanan darah di bawah 130/80 mmHg, seperti halnya pasien-pasien dengan pra eksis CAD. Penulis menyarankan, pada pasien gagal jantung, dokter harus mempertimbangkan sasaran yang lebih rendah, <120/80 mmHg, mengunakan penurun tekanan darah yang tipe lambat.
Penulis pernyataan juga merekomendasikan terapi obat menurut status CAD. Menurut guideline di Eropa terbkini, golongan beta bloker tidak lagi dikomendasikan untuk kontrol tekanan darah pada kelompok pencegahan primer. Rasendorff menjelaskan, telah banyak uji klinis perbadingan yang menunjukkan bahwa untuk pencegahan komplikasi stroke dan CAD, beta bloker di bawah golongan obat lebih baru seperti ACE Inhibitor, pemblok reseptor angiotensin (ARB) atau pemblok kanal kalsium (CCB) sehingga kami mengeluarkan beta bloker untuk pencegahan. Namun demikian, sekali terjadi oklusif CAD, dengan gejala seperti angina atau akut infark miokard, beta bloker dapat dikembalikan menjadi pusat pengobatan.
Rosendorff menekankan bahwa ini adalah pertama kalinya kelompok penulis AHA secara khusus mengerjakan topik sasaran tekanan darah dalam populasi CAD, walaupun faktanya bahwa 2 kondisi (stroke dan CAD) yang secara patofisiologi berhubungan dan menyumbangkan suatu ‘isu kesehatan publik yang sangat besar’. Guideline baru ini muncul dalam jurnal Circulation edisi 29 Mei 2007. Beberapa orang mengira bahwa angka 130/80 mm Hg sangat rendah dan beberapa berpikir belum cukup rendah, lanjut Rosendorff. Namun demikian, secara keseluruhan, Rosendorff berpikir banyak dokter belum mengetahui rekomendasi ini atau tidak menyambut perubahan besar ini. Dampak akan menjadikan banyak orang memerlukan pengobatan anti hipertensi dan bagi yang sudah mendapatkan pengobatan anti hipertensi, manajemen perlu lebih intensif dan agresif. Tapi, hal itu akan menjadikan hasil yang lebih baik, lebih sedikit serangan jantung, kemungkinan lebih sedikit stroke dan lebih sedikit pasien yang mengalami gagal ginjal.
Source: www.kalbefarma.com
|