<< Back to Index News

Sejumlah Obat Ternyata Tidak Ampuh Lagi

Jakarta, 27 Feb 2007

Beberapa jenis obat antimalaria ternyata tidak lagi ampuh menghadapi serangan parasit malaria di sejumlah wilayah di Indonesia maupun sejumlah negara lain. Di sisi lain, penanganan terhadap penyakit malaria belum menjadi prioritas pembangunan kesehatan nasional.


"Menurut data WHO, diperkirakan 1,5 juta jiwa meninggal dunia karena malaria per tahun," kata peneliti senior dari Divisi Malaria Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Jakarta, Syafruddin, dalam Simposium Malaria dan Pembentukan Jejaring Peneliti Malaria Indonesia, Senin (26/2) di Jakarta.

Menurut Syafruddin, beberapa jenis obat antimalaria yang digunakan telah menunjukkan adanya resistensi di berbagai negara di dunia. Chloroquine dilaporkan mengalami resistensi pertama kali di dunia tahun 1957, setelah diperkenalkan pertama kali pada tahun 1945. Sementara Sulfadoxine mengalami resistensi pertama kali pada tahun yang sama saat diperkenalkan, yakni tahun 1967.

Hasil penelitian Lembaga Eijkman dan Australia 1997-2004 tentang malaria dari segi patogenesis dan resistensi obat menunjukkan, di sejumlah provinsi di Indonesia hampir seluruh parasit sudah membawa gen yang termutasi terhadap Chloroquine.

"Ini berarti Chloroquine sebagai obat lapis pertama antimalaria tidak mempan lagi terhadap parasit malaria. Sedangkan Sulfadoxine mungkin bisa dipakai lagi karena mutasinya masih sedikit," kata Syafruddin.

Berdasarkan hasil penelitian biologi molekuler baru-baru ini, ditemukan resistensi terhadap obat antimalaria Chloroquine dan Sulfadoxine di Nias, Purworejo, Lampung, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Manado, dan Papua.

"Pada prinsipnya, kalau ada pemberian obat di dalam suatu populasi di mana parasit malaria hidup, maka parasit itu akan bereaksi untuk melawan," ujar Syafruddin.

Karenanya, penggunaan obat antimalaria tidak bisa serampangan dan harus melalui diagnosa klinis dan pemeriksaan mikroskopis.

Source: www.kompas.com